PULAU CANGKE
Pulau Cangke terletak di gugusan pulau-pulau kecil Sulawesi Selatan.
Daerahnya masih termasuk wilayah administrasi Kabupaten Pangkajene
Kepulauan (Pangkep). Demi efisiensi waktu dan ongkos kami memulai
perjalanan melalui dermaga Maccini Baji.
Perjalanan ke pulau Cangke ditempuh
kurang lebih 3 jam, dengan kondisi laut yang berombak. Selama
perjalanan, mata anda akan dimanjakan dengan lautan biru yang terhampar
luas. Sesekali terlihat pulau-pulau kecil dari kejauhan.
Pulau Cangke tidaklah terlalu luas
tetapi memiliki cuaca yang sejuk. Hal ini disebabkan karena banyaknya
pohon yang terdapat di pulau ini. Selain rindang, pulau Cangke juga
menjadi tempat penyu menitipkan telur-telur mereka. Jika beruntung, anda
bisa menyaksikan penyu bertelur di pasir putih pulau Cangke. selain itu kalian juga dapat melihat sunset yang begitu indah.
Keindahan bawah laut pulau Cangke juga
menjadi ‘bonus’ saat bertandang di pulau ini. Anda bisa membawa alat
snorkling dan memanjakan mata dengan pesona bawah laut pulau cangke.
Hal mengejutkan saat ke pulau ini adalah
kisah tentang penghuni pulau bernama Dg Abu dan Maidah, pasangan suami
istri yang sudah lama menghuni pulau Cangke.
Dg Abu dan Dg Mida sudah menghuni Pulau Cengkeh sejak tahun 1972 berarti
sudah 42 Tahun mereka menghuni pulau itu, Dg Abu yang punya
keterbatasan fisik karena matanya buta bertahan hidup di Pulau yang
luasnya mungkin hanya seukuran ± Lapangan Sepak Bola ini bercerita
banyak mulai perihal berawalnya Ia menghuni Pulau itu hingga menyebut
beberapa Bupati dan pejabat muspida, LSM, sampai beberapa media yang
pernah datang mengunjunginya. Dahulu, mereka adalah warga
pangkep yang diusir dari kampung karena mengidap lepra yang dianggap
sebagai kutukan. Mereka meninggalkan kampung dan terdampar di pulau
Cangke. Pulau yang akhirnya menjadi rumah mereka.

Rumah yang di tempatinya saat ini adalah bantuan dari
Dompet Duafa, sambil menunjuk rumah aslinya di sebelahnya yang juga
masih ditempatinya yang katanya dimana Ia capek di situlah Ia terbaring,
didinding rumahnya ada beberapa piagam penghargaan beserta foto-foto
yang terpasang baik dari pemerintah maupun dari NGO lainnya, Dg Abu dan
Istrinya bukannya tidak punya anak, Ia punya anak tunggal laki-laki dan
tujuh cucu bahkan sudah punya cicit tapi semunya tinggal di Pulau Pala,
Dg Abu sering diajak oleh anak cucunya tinggal bersama tapi Dg Abu tidak
mau karena sudah terlanjur cinta dengan Pulau Cengkeh/Cangke, padahal
dipulau sebelah ada sampai 80 KK penghuninya termasuk anak cucu Dg Abu,
kami juga menanyakan bagaimana dengan logistik bahan makan dan air
karena disini tidak ada air tawar.? Dg Abu mengatakan Ia disupply oleh
anak cucunya bahkan bila dalam keadaan terdesak Dg Abu menyalakan api
sebagai tanda bahwa disini logistik sudah menipis.
Kisah Dg Abu dan Maidah menjadi sangat
terkenal, terutama untuk orang-orang yang berkunjung di pulau Cangke.
Pasangan suami istri ini merawat dan memastikan pulau Cangke tetap
hijau. Sebagai bentuk terima kasih, sebelum beranjak meninggalkan pulau,
pengunjung biasanya meninggalkan beras atau bahan makanan untuk Dg abu
dan Maidah.
Pulau Cangke bisa dikatakan pulau
pribadi Dg Abu dan Maidah. Pelajaran untuk kita tentang cinta dan
kesetiaan. Bukan hanya itu, pelajaran lainnya dalah tak perlu jadi orang
kaya untuk bisa mempunyai pulau pribadi, Dg Abu dan Maidah sudah
membuktikannya.
Meninggalkan pulau Cangke dengan cerita
sepasang suami istri itu membawa kesan tersendiri saat ke pulau ini.
Pasir putih, pohon-pohon yang rindang, alam bawah laut yang indah serta
kisah mereka melingkapi perjalan yang akan terus melekat di benak.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Polres Pangkep menjadikan Pulau Cangke sebagai kawasan pelestarian penyu. Pulau ini kembali menjadi tempat penyu bertelur sekaligus sebagai tempat pemeliharan tukik yang baru menetes.
Keren tawwaaa
BalasHapus