Selasa, 15 Maret 2016

PULAU CANGKE

Pulau Cangke terletak di gugusan pulau-pulau kecil Sulawesi Selatan. Daerahnya masih termasuk wilayah administrasi Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Demi efisiensi waktu dan ongkos kami memulai perjalanan melalui dermaga Maccini Baji.

Perjalanan ke pulau Cangke ditempuh kurang lebih 3 jam, dengan kondisi laut yang berombak. Selama perjalanan, mata anda akan dimanjakan dengan lautan biru yang terhampar luas. Sesekali terlihat pulau-pulau kecil dari kejauhan.

Pulau Cangke tidaklah terlalu luas tetapi memiliki  cuaca yang sejuk. Hal ini disebabkan karena banyaknya pohon yang terdapat di pulau ini. Selain rindang, pulau Cangke juga menjadi tempat penyu menitipkan telur-telur mereka. Jika beruntung, anda bisa menyaksikan penyu bertelur di pasir putih pulau Cangke. selain itu kalian juga dapat melihat sunset yang begitu indah.

Keindahan bawah laut pulau Cangke juga menjadi ‘bonus’ saat bertandang di pulau ini. Anda bisa membawa alat snorkling dan memanjakan mata dengan pesona bawah laut pulau cangke.


Hal mengejutkan saat ke pulau ini adalah kisah tentang penghuni pulau bernama Dg Abu dan Maidah, pasangan suami istri yang sudah lama menghuni pulau Cangke.

Dg Abu dan Dg Mida sudah menghuni Pulau Cengkeh sejak tahun 1972 berarti sudah 42 Tahun mereka menghuni pulau itu, Dg Abu yang punya keterbatasan fisik karena matanya buta bertahan hidup di Pulau yang luasnya mungkin hanya seukuran ± Lapangan Sepak Bola ini bercerita banyak mulai perihal berawalnya Ia menghuni Pulau itu hingga menyebut beberapa Bupati dan pejabat muspida, LSM, sampai beberapa media yang pernah datang mengunjunginya. Dahulu, mereka adalah warga pangkep yang diusir dari kampung karena mengidap lepra yang dianggap sebagai kutukan. Mereka meninggalkan kampung dan terdampar di pulau Cangke. Pulau yang akhirnya menjadi rumah mereka.

Rumah yang di tempatinya saat ini adalah bantuan dari Dompet Duafa, sambil menunjuk rumah aslinya di sebelahnya yang juga masih ditempatinya yang katanya dimana Ia capek di situlah Ia terbaring, didinding rumahnya ada beberapa piagam penghargaan beserta foto-foto yang terpasang baik dari pemerintah maupun dari NGO lainnya, Dg Abu dan Istrinya bukannya tidak punya anak, Ia punya anak tunggal laki-laki dan tujuh cucu bahkan sudah punya cicit tapi semunya tinggal di Pulau Pala, Dg Abu sering diajak oleh anak cucunya tinggal bersama tapi Dg Abu tidak mau karena sudah terlanjur cinta dengan Pulau Cengkeh/Cangke, padahal dipulau sebelah ada sampai 80 KK penghuninya termasuk anak cucu Dg Abu, kami juga menanyakan bagaimana dengan logistik bahan makan dan air karena disini tidak ada air tawar.? Dg Abu mengatakan Ia disupply oleh anak cucunya bahkan bila dalam keadaan terdesak Dg Abu menyalakan api sebagai tanda bahwa disini logistik sudah menipis. 

Kisah Dg Abu dan Maidah menjadi sangat terkenal, terutama untuk orang-orang yang berkunjung di pulau Cangke. Pasangan suami istri ini  merawat  dan memastikan pulau Cangke tetap hijau. Sebagai bentuk terima kasih, sebelum beranjak meninggalkan pulau, pengunjung  biasanya meninggalkan beras atau bahan makanan untuk Dg abu dan Maidah.

Pulau Cangke bisa dikatakan pulau pribadi Dg Abu dan Maidah. Pelajaran untuk kita tentang cinta dan kesetiaan. Bukan hanya itu, pelajaran lainnya dalah tak perlu jadi orang kaya untuk bisa mempunyai pulau pribadi, Dg Abu dan Maidah sudah membuktikannya.

Meninggalkan pulau Cangke dengan cerita sepasang suami istri itu membawa kesan tersendiri saat ke pulau ini. Pasir putih, pohon-pohon yang rindang, alam bawah laut yang indah serta kisah mereka melingkapi perjalan yang akan terus melekat di benak.

 Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Polres Pangkep menjadikan Pulau Cangke sebagai kawasan pelestarian penyu. Pulau ini kembali menjadi tempat penyu bertelur sekaligus sebagai tempat pemeliharan tukik yang baru menetes.

1 komentar: